Minggu, 09 Maret 2014

Story That You Don't Know (Chapter 3)

Apa ini?! Acara acara macam apa ini?! Semua dipenuhi oleh idol idol menyebalkan! Apakah tidak ada acara yang bagus untuk anak anak?! Yah! Aku ini masih kecil! Berilah aku acara TV yang baik, yang memberikan nilai nilai dan norma norma yang baik untuk anak anak seumurku!


Yah yah!!! Apa ini?! Drama??? Benar benar merusak norma dan otak anak anak polos sepertiku -..-“ ckckckck.......
Semua acara menyebalkan ini membuatku haus. Aku ingin minum!
Dengan kaki kecilku ini, akupun berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.
Kemana Jimin noona?! Bukankah seharusnya dia sudah pulang! Aku bosan sendirian noona!

TING TONG...
Ah?! Jimin noona!.
Akupun segera berlari ke depan masih dengan air minum yang kupegang dan beberapa air dimulutku. Dan membukakan pintu.
“Aku pulang!” teriak ceria noonaku padaku sambil tersenyum manis dihadapanku.
Eh?! Ada seseorang di belakangnya. Nugu?? Dia namja atau yeoja??? Sepertinya bukan Siyoung noona. Siapa dia sebenarnya?!
Orang yang tengah kupikirkan kinipun mulai menampakkan dirinya sedikit demi sedikit.
Dan.....
BRUUUUUURRRRRRR.......................
“Annyeonghaseyo!” sapanya bertepatan dengan air yang kusemprotkan dari mulutku.
Ige mwoya???????????!!!!!!! Jimin noona membawa pulang seorang namja??????????? Apa aku tidak salah lihat?! Akupun dengan segera mengucek mataku untuk memastikan yang kulihat ini salah.
Jimin noonapun hanya bisa tertawa terbahak bahak melihat namja itu tersiram air dari dalam mulutku ini.
Dan,, namja itu terlihat tidak marah sama sekali padaku. Dia masih tetap pada ekspresi awalnya saat menyapaku. Yaitu.. tersenyum. Kenapa dia hanya tersenyum dan tidak marah padaku?! Padahal aku sudah menyemburnya dan Jimin noona menertawakannya. Apa dia tidak malu?! Atau dia sudah mati rasa?!
“mianhae. Silakan masuk” ucapku ketus padanya sambil membungkuk.
Segera aku mengambil serbet bersih di dapur dan langsung kuberikan padanya saat ia sedang berjalan menuju ruang tamu kami. Dia terlihat sangat nyaman saat duduk di sofa kami.
“Hyunjin-ah jaga dia ne?!” ucap noona sambil menunjukan evil smirknya padaku memberi tanda.
Aku yang menyadarinya langsung mengambil tindakan pertama.
“hyung itu sofaku. Kau boleh duduk di sebelah sana!” perintahku padanya yang disambutnya dengan tatapan yang seolah olah berkata.
‘ha? Aku?! Dengan senang hati ^^’ iapun pindah tempat duduk ke tempat yang kutunjuk. Tak ingin tau apa yang selanjutnya terjadi, aku segera berlari ke kamarku di lantai 2 disamping kamar Jimin noona. Dan sedikit merubah penampilanku menjadi agak feminin.
******
“omona~ ada seorang oppa di sini?!” tukasku di tengah tengah tangga dengan gaya seorang gadis penggoda.
Bisa kulihat sekarang ekspresinya sudah mulai berubah menjadi bingung.
Secepat kilat aku berlari kearahnya dan bertanya dengan nada sexy.
“oppa mau jus jeruk?” tanyaku yang dijawabnya dengan anggukan kecil.
Akupun berjalan ke dapur sambil sesekali melihat ke belakang dan memberikan wink.ku.
“Oppaa minumlah ini!” ucapku sambil menyodorkan jus jeruk yang sudah kutambahkan 1 sendok garam.
Oh?! Dia terlihat tidak menyukai jus itu setelah meminumnya barusan sambil menggerakkan kepalanya kekanan dan kiri.
“dimana kalian membeli jeruk jenis ini? Rasanya benar benar unik dan lezat!”
MWOYAAAA??????????!!!!!!!! Dia !! yah~~
Sofanya juga! Kenapa tidak bereaksi! Dia benar benar menyebalkan!
“oppa~” ucapku manja sambil duduk di pangkuannya dan bibir yang kumajukan.
Tidak bereaksi.! Jarumnya! Aku tadi sudah meletakkan jarum kan di sofa itu?! Dia benar benar sudah mati rasa! Baiklah! Amunisi terakhir!
“yah!!!!!!!!!!!” teriakku padanya dengan wajah marah dan geli.
“apa yang kau lakukan padaku?! Kenapa aku duduk di pangkuanmu?! Aku ini namja kau tau!” ucapku masih dengan nada tinggi dan tubuh yang ku lompatkan menjauh dari pangkuannya.
“n.. ne??!” sahutnya dengan tatapan aneh+bingung yang di arahkannya padaku. Diapun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arahku.
“kau manis sekali!! Siapa namamu?! Kenapa tidak berkenalan denganku!? Aku adalah Lee Jeongmin! Katakan katakan! Siapa namamu?!” lanjutnya sambil meremas remas gemas kedua pipiku dan ekspresi gemasnya.
“Yoon Hyunjin! Yah! Babo! Lepaskan! Kau sangat menyebalkan!” ketusku lalu menghempaskan kedua tangannya dari wajahku.
Tapi, aku tidak sengaja melihat sofa yang didudukinya tadi. Dan benar! Aku sudah meletakkan jarum disana! Dia memang benar benar bokong besi!
Sekarang apa yang harus kulakukan padanya?! Dia memang sudah mati rasa. Apa aku harus membawanya ke kandang ayam tetangga dan mengurungnya di sana?! Kekekeke~
“yah, apa ini foto keluarga kalian?” tanya namja bernama Jeongmin itu padaku. Karena aku sudah sangat sebal dibuatnya, akupun hanya mengangguk cuek padanya.
“omona Jimin imut sekali di sini! Dan kau, juga!!” teriaknya heboh sendiri saat menatap dalam dalam satu persatu wajah yang ada di foto yang ia pegang sekarang.
“kau. Menyukai noonaku??” tanyaku tiba tiba padanya dan membuatnya langsung meletakkan kembali bingkaian foto itu di meja dekat kursinya.
“apakah anak kecil sepertimu sudah mengerti arti kata ‘suka’??” ucapnya balik bertanya yang tidak bisa kujawab.
Tapi, dia memang benar. Apa yang ku ketahui tentang dunia ini? Aku tidak tau apa arti suka, cinta. Apalagi gadis penggoda. Kekeke~
“kenapa di foto itu hanya ada kalian berdua bersama eommamu? Dia eommamu kan?! Dimana appamu?” tanyanya tanpa wajah bersalah yang terasa langsung menusuk nusuk hatiku dengan ribuan jarum.
Appa?? Appa? Aku........ selalu ingin mengucapkan kata itu. Memanggil seseorang dengan kata itu. Benar benar ingin.

APPA..
APPA...
Kepada siapa kata itu harus ku ucapkan?!
Appaku.. appa kami. Aku dan Jimin noona telah pergi. Bukan pergi ke surga atu semacamnya. Tetapi dia pergi meninggalkan kami entah kemana. Sejak aku lahir, aku memang belum pernah melihat appa. Entah kenapa eomma selalu marah saat aku bicara tentang appa.
Oh ne..
Aku pernah melihat appa sekali. Saat aku masih di TK. Waktu itu saat aku pulang sendirian karena tidak ada yang menjemputku. Lalu aku melihat eomma menangis di depan seorang namja paruh baya di halaman rumah. Eomma terus saja mencegahnya pergi tapi ahjusi itu malah menghempaskan tubuh eommaku sampai tesungkur ke tanah dan meninggalkannya pergi.
Tapi sayangnya waktu itu aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku hanya bisa melihat punggungnya. Dia terlihat sangat keren dan gagah.
“aah.. pasti pertanyaanku tadi sangat mengganggumu ya?! Mianhae Hyun-ah” ucapnya minta maaf padaku dengan sedikit ekspresi wajah tidak enak padaku.
“Hyunjin-ah, kau suka permainan apa? Apa kau ingin belajar bermain gitar?! Ayo kita bermain! Aku bisa mengajarimu bermain gitar jika kau mau! Waah, kenapa kau bergaya cool seperti itu?! Kau benar benar imut dan manis!! Bolehkah aku menelanmu? Oh tidak, biarkan aku sedikit menggigitmu! Kau benar benar i..” tukasnya panjang lebar yang sok akrab denganku dan senyum yang selalu menghiasi bibirnya saat menatapku.
“YAH!! Hyung!! Kenapa kau sangat cerewet?! Kau seperti nenek nenek! Kenapa kau selalu menanyakan hal yang tidak penting dan membosankan seperti itu?!” ketusku setengah berteriak padanya agar dia diam.
Tapi dia malah tersenyum lebih lebar padaku dan menghampiriku kemudian memelukku lembut.
Yah yah!! Apa yang dia lakukan?! Memelukku?!
“mianhae. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya punya saudara. Aku rasa itu menyenangkan.
Jadi,... kau tidak suka kuperlakukan seperti itu?! Baiklah, apa yang harus kulakukan?” ^^
Tukasnya yang tak mau aku jawab. Jeongmin hyungpun akhirnya melepaskanku. Sekarang aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan mata yang kosong kemudian kuberikan dia tatapan dingin khasku yang banyak yang mengatakan bahwa aku terlihat tampan dengan tatapan ini.
******

TOK TOK TOK..
Ketukku di depan pintu kamar Jimin. Tapi, tak ada jawaban.
Kenapa aku bisa ada di sini??? Karena Hyunjin bilang Jimin ada di sini dan aku harus bicara dengannya. Memangnya apa yang harus aku bicarakan dengannya?!
CKLEK
Yah~ apa boleh buat tidak ada jawaban. Jadi kuputuskan untuk masuk saja.
Ah?! Dia tertidur?! ^^. Tapi, apa aku tidak lancang masuk kesini?! Eoh??


“Foto ini lagi..” ucapku saat melihat sebuah foto yang sama dengan foto yang kulihat tadi di bawah sambil berlutut di depan meja kecil di samping Jimin, karena aku tidak berani mengambilnya.
“jimin-ah. Kau sangat imut” tukasku lagi sambil melihat wajahnya yang terlihat sangat lelah.
Akupun lantas duduk di sampingnya. sambil memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang imut.

To be continued..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar