Minggu, 09 Maret 2014

My Beautiful Roommate (Part 2)

         Bagaimana ini?? Aku telah melepasnya pergi.
Aku memang bodoh.
Dia telah berlari pergi meninggalkanku. Sekarang aku harus bagaimana??
Apa yang harus kulakukan??
         Aku hanya bisa menahan air mataku dengan menatap langit yang dengan cepat berubah menjadi kelam. Tiba tiba hujan turun mengiringi kepergiannya, akhirnya air mata ini mulai jatuh bersama turunnya hujan yang semakin deras. Setidaknya dia tak akan melihat air mataku karena hujan. Itupun bila ia masih mau melihatku. Aku memang menyedihkan.


******

           Aku.. Tidak akan meninggalkanmu.
          "Youngmin-ah~ apa kau sudah siap?" tanya eomma sambil membuka pintu kamarku untuk mengecek apakah aku sudah menyiapkan diri untuk kepergianku ke Inggris hari ini.
"apa yang kau lakukan?? Kenapa tidak bersiap siap??" lanjut eomma yang terkejut melihatku yang sedang berbaring lesu di ranjang kesayanganku.
Eommapun duduk di sampingku, tetapi aku memunggunginya. Aku hanya tidak mau eomma melihat wajahku yang seperti ini sekarang. Melihat tingkahku yang tidak seperti biasanya, eomma lantas membelai lembut kepalaku dan menarik tanganku agar aku duduk. Walaupun sudah duduk, tetap saja aku lesu dan tidak mau melihat wajah eomma. Itu semua tentu saja karena yeoja itu.
           "Youngmin-ah, waeyo?? Kenapa anak eomma sangat lesu?" tanya eomma lagi kemudian menarik wajahku dengan kedua tangannya agar aku melihatnya. Kemudian mencubit pipiku setelah bisa melihat wajahku.
          "eomma~" ucapku manja kemudian menjatuhkan badanku memeluknya dengan erat.
          "wae?? Tidak biasanya anak eomma yang manis ini seperti ini. Ada apa? Katakan pada eomma" tanya eomma meminta penjelasan akan sikapku yang kekanakan tidak seperti biasanya.
          "eomma jangan marah ne?!" pintaku saat melepaskan pelukanku dan mengacungkan jari kelingkingku agar eomma mau berjanji tidak marah padaku. Setelah melihatnya beberapa saat, eommapun langsung mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku sambil mengangguk.
"aku menyukai seorang yeoja" ucapku cepat dengan wajah merah yang tak berani melihat mata eomma.
          "jadi??" tanya eomma seketika setelah mendengar ucapanku tadi dengan senyum bahagia menghiasi bibirnya.
          "aku tidak ingin pergi ke Inggris" jawabku
          "eoh, anak eomma sudah besar ternyata." sahut eomma atas pernyataanku barusan sambil mencubit pipi kiriku gemas.
          "Eomma~ aku sudah besar" ketusku agar eomma melepaskan cubitannya.
          "lalu, kau ingin masuk ke universitas yang sama dengannya?" tanya eomma seakan mengetahui isi hatiku. Dan kujawab dengan anggukan mantap dariku.
"apa kau yakin akan meninggalkan kesempatan ini?? Ini adalah kesempatan emas untukmu, kapan lagi kau akan ditawari masuk ke universitas ternama disana tanpa biaya sampai 5 semester." tanya eomma meyakinkanku.
           "ne. Aku akan meninggalkan kesempatan emas ini demi seorang yeoja yang kusukai" jawabku lagi walaupun sedikit ragu.
           "apa yeoja itu juga menyukaimu hingga kau rela meninggalkan kesempatan ini?" tanya eomma penuh rasa penasaran yang tentu saja diarahkannya padaku.
           "dia menyukaiku. Tapi itu dulu sebelum pesta kelulusan. Selama ini dia selalu mengejarku. Tapi, dia pergi karena putus asa aku tidak pernah menganggapnya. Dan, sekarang aku baru merasakan apa yang seharusnya kurasakan sejak dulu. Dan itu sakit eomma" jelasku pada eomma sambil mengingat apa yang terjadi antara kami selama ini.
           "lalu sekarang dia bagaimana?" tanya eomma lagi.
           "aku mendengar dia akan tinggal di asrama putri saat kuliah nanti, karena orang tuanya akan tinggal beberapa bulan di Inggris." jawabku atas informasi yang kuperoleh dari beberapa teman yang aku rasa cukup dekat dengannya.
           "apa yang bisa eomma lakukan?" eomma memelukku dengan tangannya yang lembut dan hangat itu.
"tidak mungkin eomma memasukkanmu ke asrama yeoja" lanjut eomma lesu.
"tunggu!" kejut eomma kemudian melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipiku.
"anak eomma yang manis!" tukas eomma sambil tersenyum.
           Kenapa eomma tersenyum seperti itu?? Apa yang eomma sedang pikirkan?? Eomma membuatku takut!
******


"EUN HEE'S ROOM"
         "yap! Selesai, sentuhan terakhir yang indah" ucapku setelah menggantungkan papan namaku di pintu kamar di asrama baruku juga. Selesai dan sekarang saatnya istirahat. Akupun menutup pintu dan berlari lalu menghempaskan tubuhku ke ranjang.
Baru beberapa detik aku merebahkan tubuh ini, bel pintu kamarku berbunyi dan ini menyebalkan!
         "Eunhee-ya kau dipanggil kepala asrama" ucap Hye Na tiba tiba setelah kubukakan pintu yang membuatku sedikit terkejut.
         "a~ ne. Kau membuatku terkejut. Ada apa??" tanyaku.
         "molla (tidak tahu) coba saja pergi kesana dan lihat!" jawabnya dengan senyuman dan langsung pergi yang membuatku menjadi penasaran.
Tanpa pikir panjang lagi aku berlari ke ruang kepala asrama, kemudian merapikan pakaian dan rambutku di depan pintu ruangannya.
         "apa yang kau lakukan? Cepat masuk!" panggil kepala asrama yang tiba tiba ada di belakangku dan membuka pintu kemudian mendorongku masuk.
Di dalam sini aku melihat ruangan yang benar benar bersih dan rapi, tetapi seorang yeoja dan seorang ahjuma (bibi) yang aku rasa adalah eomma(ibu)nya sedikit mengganggu pemandangan rapi ini.
        Mendengar kedatanganku dan kepala asrama ahjuma itu langsung berdiri dan membungkuk kearahku dan kepala asrama. Spontan aku membalas bungkukan itu. Kamipun akhirnya duduk, kepala asrama duduk di kursinya dan aku duduk di kursi sebelah yeoja yang aku rasa akan tinggal di asrama ini juga.
         "begini EunHee-ya.." ucap kepala asrama lembut.
         "jadi kau EunHee? Wah, wajahmu manis dan kau pasti anak yang baik" tukas ahjuma itu tiba tiba sambil memperhatikan wajahku.
"kalau begitu langsung saja antar kami ke kamarmu. Permisi nyonya Han~" ujar ahjuma itu berpamitan kemudian menggandeng anaknya dan mendorongku keluar untuk mengantarnya pergi ke kamarku.
         Apa? Kamarku? Apa dia yang akan menjadi teman sekamarku?? Mungkin.
Oh? Sudah sampai. Akupun akhirnya berhenti tiba tiba takut terlalu jauh karena langkahku yang cepat, dan membuat dua orang dibelakang tadi menabrakku.
         "sudah sampai?? Syukurlah, eomma buru buru. Kalau begitu eomma pergi dulu!~" seperti yang dia lakukan tadi, lagi lagi dia mendorong kami masuk dan langsung pergi meninggalkan yeoja tadi yang sekarang sedang sibuk membereskan koper dan tasnya yang berantakan karena didorong eommanya tadi.
         Kasihan juga. Akupun lantas ikut berjongkok dan membantunya membereskan barang barangnya.
         "khamsahamnida~ (terimakasih) kau benar benar baik" ucapnya setelah berhasil membereskan barangnya dan berdiri sambil membungkukkan badannya padaku.
         "ne, cheonmaneyo (iya sama sama). Siapa namamu?? Aku  belum tahu namamu, bahkan aku rasa dari tadi aku belum melihat wajahmu. Hehehe~" tanyaku karena penasaran akan identitasnya.
Akhirnya dia mulai menampakkan wajahnya setelah menunduk beberapa lama. Tapi semakin ia menampakkan wajahnya, ia benar benar membuatku terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, dia itu benar benar mirip dengan...
         "Mian~ (maaf)" ucapnya meminta maaf.
         "Y.. YoungMin..." ucapku terkejut melihat wajahnya yang benar benar terlihat mirip dengan YoungMin, namja yang pernah kusukai.
         "ah, ani. Namaku Jo Jae Min bukan YoungMin." jelasnya saat kupanggil dia dengan nama namja itu.
Eot.. Eottokhaji?? (bagaimana ini) air mata, mulai mengisi mataku saat menatap matanya. Aku teringat saat saat terakhir aku bertemu dengan YoungMin. Bagaimana aku marah padanya, dan perubahan sikapnya padaku saat itu.
         "Mianhae (maaf) apa aku melakukan sesuatu yang buruk?? Kenapa kau akan menangis?? Jeongmal mianhae (benar benar maaf). Apa yang bisa kulakukan untukmu? Kau mau aku traktir? Atau kau mau aku mencucikan pakaianmu??" tukasnya meminta maaf atas apa yang tidak pernah ia lakukan.
         "ani~ (tidak) mianhae. Kau tidak salah apa apa. Aku hanya teringat pada seseorang yang benar benar mirip denganmu. Seseorang yang pernah menyakitiku.
Wuaah~! Mian, aku malah bercerita yang bukan bukan padamu. Ranjangmu yang disebelah kanan, dan aku dikirimu" jelasku sambil tersenyum padanya menunjukkan 2 buah ranjang yang tertata rapi di kamar ini dengan 2 buah meja kecil di tengah sebagai pembatasnya.
          "mian lagi, tapi kamar mandinya di mana??" tanyanya lagi.
          "oh iya aku belum memberitahumu ya?! Ada di sebelah kanan, ruangan di sebelah kanan ranjangmu" jawabku sambil menunjuk kamar mandinya. Diapun langsung berlari ke kamar mandi setelah kutunjukkan kamar mandinya.
           Setelah cukup memberi tahu tentang ruangan ini padanya, aku langsung merebahkan badanku ke ranjang memikirkan apa yang kulihat pada yeoja bernama JaeMin itu. Dia benar benar mirip dengannya. Sekilas pikiranku teringat kembali pada YoungMin, ekspresi ekspresinya mulai memenuhi kepalaku. Aku benci ini. Kenapa dia harus mirip dengan YoungMin?! Dan kenapa dia harus sekamar denganku?! Apa tuhan tidak mengijinkanku melupakannya?
          Benar benar mirip, dia itu YoungMin versi yeoja. Bayangkan saja wajah YoungMin, kemudian tambahkan rambut panjang dan jadilah JaeMin. Tapi berbeda, JaeMin lebih lebih lembut dan baik. Sama seperti saat itu, saat  saat terakhir pesta perayaan kelulusan. Haaah!!!! Kenapa aku jadi memikirkan namja itu!! Menyebalkan! Lebih baik aku segera tidur.

******
******

          "Keterlaluan! Sekamar dengannya?!" gumamku sendirian di kamar mandi.
"benar benar. Dia tadi sepertinya benar benar sadar. Tapi mau bagaimana lagi. Mian.. Sebenci itukah kau padaku?? Semenyakitkankah??" lanjutku yang masih sendirian di depan kaca.
          Tapi tiba tiba rasa sakit itu kembali menyerangku setelah kuucapkan kata 'semenyakitkankah'. Dadaku kembali terasa sesak dan sakit, aku serasa tidak bisa bernafas karenanya.
          "benar benar sakit ya?!" tukasku lagi setelah kurasakan lagi rasa sakit yang kurasakan setelah kehilangannya.
          Setelah mencuci muka dan kurasa cukup untuk menenangkan diri di hari pertamaku tiba di asrama yeoja ini akupun keluar dan berniat untuk langsung beristirahat, karena aku rasa hari esok akan cukup berat untuk kujalani sebagai seorang.. "yeoja".
          Tetapi barusaja keluar, ada pemandangan yang membuatku syok. Dia sudah tertidur. Euh, Bukan itu yang membuatku syok, tetapi mengenai ranjangnya. Hanya di batasi 2 buah meja kecil?? Asrama macam apa ini?! Bagaimana seorang namja sepertiku tidur berdekatan dengan yeoja?! Heol~
Binggoo~ aku lupa. Aku sekarang seorang yeoja. Tapi, walaupun terlihat seperti yeoja, aku ini tetap namja! Bagaimanapun juga aku tidak bisa tidur disitu. Tidak.. tidak!
          Akhirnya kuputuskan untuk tidur di sebuah sofa kecil yang ada di sebelah pintu, berbekalkan sebuah bantal dan 1 selimut. Bukan karena aku takut akan berbuat sesuatu yang buruk padanya! Hanya saja, aku rasa hal ini.. Eummhhh.. Disebut apa ya biasanya keadaan seperti ini?? Euh, malu? Bukan? Canggung? Apalagi.. Mungkin,, Aneh. Dan.. Belum terbiasa. Ya, itu. Itu.
******

"Yah~ ireonada! (hey bangun) yah.. Yah!" panggil seseorang sambil menggoyang goyangkan tubuhku.
         "Yah!!!! Apa yang kau lakukan?? Aku tidak bisa tidur semalaman ini!! Kenapa kau harus membangunkanku?! Urus saja urusanmu sendiri!!" teriakku marah pada orang yang mengguncangkan tubuhku yang belum sempat tidur malam ini kemudian kembali lagi bersembunyi di bawah selimut.
         "a.. Mian." ucapnya minta maaf padaku dengan ekspresi bersalah kemudian pergi perlahan menjauhiku.
Apa yang baru kulakukan?! Akupun langsung berlari beranjak dari sofa tempatku beristirahat tanpa berhasil tidur untuk mengejarnya.
         "mianhae~ aku membentakmu. Aku hanya tid.." ucapku sambil menahannya pergi dengan memegang tangannya.
         "ani. Gwaenchana (tidak apa apa). Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu." potongnya sambil tersenyum kemudian pergi lagi.
         Biasa diperlakukan seperti itu?? Apa yang dia bicarakan?! Apa maksudnya? Sudah biasa dibentak? Apa.. Yang dia maksud adalah aku.. Apa aku terlalu sering berlaku kasar padamu?! Mian~
Mengingat ekspresinya yang terlihat kecewa tadi itu membuatku sadar betapa kasarnya aku selama ini. Tapi melihat senyumannya, ia benar benar terlihat seperti sudah biasa diperlakukan kasar olehku. Sekali lagi mianhae~
        Aish.. Tapi bagaimana ini?! Hari sudah pagi, tapi aku masih belum bisa memejamkan mata sedetikpun. Sepertinya aku harus segera mandi dan pergi kuliah.
        "Aigoo~ mataku. Bagaimana bisa! kantong mata?! Ish Jinjja (yang benar)!! Gara gara yeoja itu ada di ruangan yang sama denganku aku jadi tidak bisa tidur! Ini menyebalkan!" keluhku pada diriku sendiri tentang kantong mataku akibat tidak tidur semalaman di depan kaca kamar mandi.
TOK TOK TOK TOK TOK..
         "Apa?? Aigoo. Siapa itu?? Eottohkaji?? Aku sudah melepas wignya.". Ucapku panik ketika kudengar seseorang mengetuk pintu kamar mandi.





To be continued..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar