Minggu, 09 Februari 2014

WINTER IN MY HEART Chapter 1

    “Aku dapat tersenyum sekarang, tapi aku mencoba untuk menahannya”
                    ******

    “Siyoung-ah! Cepat keluar dan makan! Appa sudah meyiapkan sarapan dari tadi!” teriak tn. Lee dari meja makan memanggil putrinya agar cepat keluar untuk segera sarapan.
    “ne appa!” sahut sang putri berlari keluar kamarnya, tetapi tiba tiba saja ia berteriak saat memergoki jam dinding di tembok.
“aigoo! Appa sudah siang! Aku berangkat dulu ne!!” lanjutnya kemudian berlari keluar rumah meninggalkan appanya dengan mimik muka bingung.

    “tapi kau harus makan dulu!! Siyoung-ah!!” panggil tn. Lee  sambil berlari mengejar putrinya sampai di ambang pintu.
Sementara itu, di depan rumah sudah terlihat seorang namja tampan yang sudah siap menunggu Siyoung di atas motornya.
    “Siyoung-ah! Kau ini darimana saja?! Cepat naik!” ucap namja itu lantas memberikan sebuah helm ke kepala Siyoung.
“mianhae oppa~” sesal Siyoung lantas naik dengan cepat ke atas motor dihadapannya.
“baboya! Kau selalu saja seperti ini” ucap namja itu lagi. Tapi kali ini dengan nada meninggi dan intonasi candaan unik darinya.
“yah! Hyunseong! Neo nado babo! Coba katakan padaku, kenapa kau tidak segera lulus dari kuliahmu?!” balas yeoja bernama Siyoung itu mencoba untuk bercanda juga.
“yah! Bisakah kau tambahkan kata “oppa” di depan namaku?! Itu sangat tidak sopan! Aku ini oppamu! Kau ini~” kata Hyunseong berpura pura marah kepada yeodongsaengnya.
 Ucapannya itupun lantas membuat keduanya tertawa bersama. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan sekolah Siyoung, dan seperti biasanya. Suara para gadis sudah bergemuruh terdengar membicarakan Hyunseong yang menjadi primadona di sekolah itu walaupun ia bukan murid di sana. Memang tidak heran jika Hyunseong memiliki banyak penggemar di sekolah Siyoung.
    Ia dianggap sebagai namja sempurna. Wajah yang rupawan, badan atletis, suara yang benar benar indah, dan yang membuat semua yeoja iri. Ia sangat menyayangi saengnya, Siyoung. Ia rela melakukan apapun demi Siyoung jika ia menginginkannya.
    “pai oppa! Kuliah dengan benar ne?! Agar kau cepat lulus!” tukas Siyoung mengejek oppanya saat ia barusaja turun dari atas motor oppanya itu.
    “tenang saja! Aku akan lulus tahun depan!” jawabnya sambil mulai memacu motornya perlahan meninggalkan Siyoung yang menatap kepergiannya di depan sekolah.
    “yah! Yah~ lihat! jadi itu oppanya Siyoung?! Uwaaa sangat tampan!” teriak seorang gadis kepada temannya di belakang Siyoung membuatnya reflek langsung berbalik.
    “ne! Dia oppaku! Dia keren kan?!” katanya yang dengan percaya diri kemudian melenggang pergi menuju lorong lorong sekolahnya.
Tapi penglihatannya sekarang sedang tersita oleh kerumunan murid yang sedang dengan antusiasnya menyaksikan beberapa lembar kertas yang baru di tempel di mading.
    “permisi, ada apa? Kenapa ramai sekali?” tanyanya pada seorang namja yang sedang ikut membaca artikel artikel di mading.
    “artikel di situ mengatakan sekolah kita akan ditutup.” Jawab namja berkacamata itu dengan nada datar.
    “MWOOO??????” teriak Siyoung yang sedang terkejut setengah mati, dan membuat semua orang yang ada di sekitarnya menatapnya dengan tatapan aneh.
“eh, hehehehe.... mianhae~” ucapnya malu malu dengan cengiran kecil dan tundukan menyesal.
“gomawo ne” lanjutnya berterimakasih pada namja di depannya itu kemudian meneruskan perjalanannya menuju kelas.
    Saat ia sampai di kelas dan mulai memasuki pintupun suasana tak kalah ramainya dengan depan mading tadi saat membicarakan berita tentang penutupan sekolah itu. Tanpa memperdulikan yang lainnya, Siyoungpun mulai mendapatkan kursinya dan mendudukkan dirinya di sana. Namun tak lama setelah ia duduk, ia telah dikagetkan oleh seseorang yang duduk di kanannya.
    “siyoung-ah! Kau sudah tau kalau sekolah kita akan ditutup?” tanya seseorang bernama Jimin itu pada Siyoung yang baru duduk dikursinya.
    “ne. Tapi kenapa??” tanggapnya sambil menatap bingung ke arah Jimin.
    “entahlah, semuanya serba ditutup tutupi”
    “lalu, bagaimana dengan kita nanti?” tanya Siyoung penuh dengan kecemasan lalu melompat sedikit dari kursinya untuk meraih tangan sahabatnya.
    “dari beberapa isu yang kudengar, cara satu satunya agar sekolah kita tidak di tutup adalah dengan mencari 5 murid berprestasi dari sekolah lain dan membujuk mereka agar mau pindah ke sekolah kita. Barulah mereka akan mengembalikan sekolah kita. Hm.. begitulah..” jelas Jimin panjang lebar dengan mengernyitkan dahinya.
Perkataan Jimin itu membuat Siyoung menarik nafas panjang dan lega dengan keadaan itu.
    “lalu kapan mereka akan di datangkan?” tanyanya tak sabar dengan nada yang menenang.
    “aku dengar sih tahun depan. Bertepatan dengan tahun ajaran baru” jawab Jimin mengalihkan ekspresinya menjadi santai.
    “haaah~ syukurlah..” tukas Siyoung menarik nafas lega kembali.
                    ******


3 Bulan kemudian...........
    Murid murid kembali dibuat heboh dengan perbincangan siapakah 5 murid baru yang akan di datangkan oleh sekolah dan menjadi pahlawan sekolah mereka hari itu. 5 murid baru itu akan di umumkan tepat pada hari ini di aula sekolah. Dan untuk lebih memeriahkan acara tersebut, semua murid diwajibkan untuk hadir. Dan tak lama setelah pengumuman, semua muridpun kini telah berkumpul dan terduduk rapi di aula sekolah.
    “murid murid harap diam! Tes.. tes.. baiklah, langsung saja kita panggil 5 pahlawan sekolah kita! Ban Hyean kelas 3, Jo Youngmin kelas 2, Jo Kwangmin kelas 2, No Minwoo kelas 2 dan Jung Raemun kelas 1. Silahkan memperkenalkan diri satu persatu!” ucap kepala sekolah bersemangat diikuti sorak gembira para murid.
Mereka berlima pun mulai memperkenalkan diri satu persatu.
    “annyeonghaseyo jeoneun Hye An imnida! Manaso bangapseumnida!”
    “annyeonghaseyo jeoneun Jo Youngmin imnida! Manaso bangapseumnida!”
    “annyeonghaseyo jeoneun Jo Kwangmin imnida! Manaso bangapseumnida!”
Belum selesai 5 murid memperkenalkan diri, tetapi murid ketiga ini telah membuat ricuh suasana aula, karena wajahnya yang mirip atau bahkan bisa disebut sama dengan murid kedua atau Jo Youngmin. Karena tidak ingin berlaru larut dalam suasana tersebut, kepala sekolahpun dengan cepat mengambil mic yang dipegang oleh murid ketiga ini dan memanggil kembali Jo Youngmin.
    “murid murid! Harap perhatiannya! Tolong bersikaplah biasa! Mereka ini adalah saudara kembar identik! Jadi tolong bersikaplah wajar dan biasa saja!” ujar kepala sekolah sedikit menahan amarah, dan membuat semua murid diam seketika.
    “annyeonghaseyo! Urineun Jo Twins imnida!” sapa 2 kembar identik itu disambut dengan bunyi bunyian “Ooooohhh.....” dari para murid.
Acarapun selesai dan semua murid telah di izinkan untuk kembali ke kelas masing masing.
                    ******
    Setelah mengetahui siapa saja ke 5 murid baru itu, murid muridpun kembali ke kelas masing masing disusul para seongsaenim di setiap kelas. Tidak terkecuali kelas Siyoung dan Jimin.
    “murid murid, pagi ini kalian akan mendapat teman baru!~ kalian taukan siapa???!!!!~” tukas seongsaenim bersemangat dengan nada yang terdengar sangat gembira.
Perkataan Hyein seongsaenimpun mendapat antusias yang luar biasa dari para siswa. Karena mereka beruntung bisa satu kelas dengan pahlawan sekolah. Terbukti dengan kelas yang ramai berbisik membicarakan siapa salah satu pahlawan itu.
    “Siyoung-ah! Kau dengar itu?! Kyaaaa~!!! Semua murid baru kelas 2 kan namja! Kira kira yang mana ya?? Semuanya tampan!!” teriak Jimin pada sahabatnya yang duduk tepat di samping kirinya.
    “haa~h aku tidak terrlalu berharap, mereka terlihat sombong” keluh Siyoung lemah kemudian meletakkan dagunya diatas tangannya yang dilipat di atas meja.
    “kau ini bicara apa?! Mereka terlihat ramah!” sanggah Jimin dengan pipi merah membayangkan namja namja tampan itu.
    “anak anak!! Diam! Eherm.. murid baru, silakan masuk!” panggil seongsaenim dengan nada sedikit genit dan senyuman yang terlihat ia buat semenawan mungkin.
    Perlahan tapi pasti, murid baru itu mulai menampakkan diri. Tetapi tidak seperti yang dikira yaitu seorang murid baru. Melainkan dua orang murid baru dengan wajah yang bisa dikatakan sama, hanya warna rambut yang dapat menjadi pembeda keduanya. Tak heran, kelas menjadi heboh kembali dengan penemuan dua makhluk dengan wajah yang sama itu. Kemudian dengan senyum manis dan mata yang agak menyipit mereka memperkenalkan diri.
    “annyeonghaseyo urineun...” belum selesai memperkenalkan diri, perkenalan mereka terpotong oleh teriakan kompak murid murid di kelas
    “JO TWINS!!!!” dan, teriakan itu sukses membuat Siyoung tersentak kaget dari lamunannya sedari tadi. Apalagi teriakan paling keras keluar dari sang sahabat sendiri, Jimin, dan itu benar benar membuatnya ingin menegurnya.
    “Jimin-ah! Ada apa denganmu? Kau tidak perlu berteriak sekeras itu! Mereka itu bukan idolamu!” tegur Siyoung kepada Jimin seraya menyipitkan mata.
    “mereka boleh menjadi idolaku sekarang!” jawab Jimin dengan nada gembira.
    “terserah kau saja” ujarnya mengalah.
    “kalian boleh duduk dimana saja kalian suka! Silahkan memilih~” ucap seongsaenim ramah sambil memainkan bahasa tubuhnya.
    Mereka berdua hanya terlihat bingung melihat seisi kelas entah sudah menemukan tempat yang tepat untuk mereka sendiri atau belum. Hingga akhirnya salah seorang berambut blonde dari kembar Jo itu mulai melangkah ke arah meja nomor 2 dari depan dan tepat di samping kiri Jimin, sehingga membuat senyuman Jimin semakin berkembang.
    “maukah kau pindah dan membiarkan aku duduk disini?” pintanya pada Siyoung yang tidak memperhatikan sama sekali 2 orang murid baru itu selama mereka di depan. Ucapannya itu membuat Siyoung langsung mendongak melihat namja berambut blonde itu.
    “Apa??!” tukas yeoja pemilik bangku itu.
“ne ne. Baiklah, aku tidak mau mencari masalah dengan semua temanku disini!” lanjutnya seakan menyadari resiko yang akan terjadi jika ia menolak permintaan murid baru itu.
Kemudian, dengan muka masam dan langkah yang terlihat benar benar berat yeoja itu melangkah pergi ke meja belakang Jimin. Dan dengan tatapan marah ia menatap Youngmin yang sedang duduk santai menempati tempatnya tadi sambil mencoba membuat dirinya senyaman mungkin di tempat barunya.
    “Siyoung-ah! Dia tepat disampingku!” sebuah teriakan kecil keluar dari mulut Jimin saat melihat Youngmin duduk di sampingnya sambil meremat tangan Siyoung.
    “a? I,, i ,. Iya.” Sahut Siyoung mencoba tersenyum di hadapan sahabatnya itu.
    Tapi, apa yang terjadi. Murid baru itu kini ternyata sudah berada di hadapan Siyoung lagi dengan cepat. Entah kapan ia berjalan ke arah Siyoung, tetapi kini ia sudah berada di sana sambil menatap polos ke arah Siyoung.
    “bisakah kau pindah lagi? Aku ingin duduk di sini” tukas namja itu.
    “mwo????” teriak Siyoung karena ia pikir si murid baru itu sudah mengambil mejanya tadi.
“bukankah kau sudah mengambil mejaku tadi?! Jadi kau masih menginginkan meja yang ini??” lanjutnya yang terlihat sangat berapi api.
    “apa maksudmu... hyungku??” tanya murid baru itu sambil sedikit menyingkir ke kanan agar hyungnya bisa terlihat oleh Siyoung.
    “apa?” ucap hyung dari namja berambut hitam yang berdiri di hadapan Siyoung itu dengan nada datar.
    “apa?! Ee.. hehehe.. mianhae! Aku lupa kalau kalian itu Twins..” tukas Siyoung malu malu.
    “yah! Cepat pindah! Semuanya sedang melihatmu sekarang!” perintah Jimin pada Siyoung dengan sedikit melihat ke arah kanan dan kirinya.
    “haaaah....... iya iya! Aku akan pindah!” ucap Siyoung mengalah karena semua teman temannya yang melihatnya dengan tatapan yang tajam, seakan berkata “cepat pergi!!!”
    Akhirnya, Siyoung mulai melangkah lagi menuju meja yang terletak di pojok depan dengan menunduk dalam dalam, seakan tak berani membalas tatapan teman temannya yang sepertinya tidak suka akan tindakannya terhadap 2 pahlawan baru mereka.
“Siyoung-ah kajja pulang!” ajak Jimin pada sahabatnya dengan gaya imut dan manjanya.
    “kajja!” sahut Siyoung sambil melompat dari kursinya bersemangat dengan senyumannya.
    “ne! Tapi kejar aku!” ujar Jimin kemudian berlari keluar meninggalkan Siyoung di kelas.
    “yah! Tunggu aku!” teriak Siyoung pada Jimin kemudian mulai berlari mengejar Jimin.
Tetapi, belum sempat ia berlari keluar kelas, ada seseorang yang dengan sigapnya meraih dan menggenggam tangan Siyoung dengan erat sehingga membuatnya tertahan.
    “ha?? Hh... ih..!!!” kejutnya berusaha melepas genggaman tangan itu tanpa melihat siapa yang tengah menggenggam tangannya erat.
    Karena tangannya tak juga terlepas, akhirnya Siyoungpun penasaran dengan siapa yang menggenggam tangannya sekarang ini. Lalu dengan cepat ia mulai membalikkan badannya.
    “Siyoung-ssi??” panggil seseorang yang menggenggam tangan Siyoung itu yang ternyata adalah seorang namja polos.
    “aigoo!!! Kenapa kau menggenggam tanganku?! Lepaskan! Aku ingin pulang!” sahutnya dengan nada yang terdengar marah.
    “annyeonghaseyo Kwangmin imnida! Khamsahamnida  ne!?” lanjut namja berambut hitam dengan senyum manisnya sambil sedikit mengangguk tanpa melepaskan genggaman tangannya. Walaupun begitu, ia telah berhasil membuat Siyoung mengangakan mulutnya tanpa sadar saat melihat senyumnya selama beberapa detik kemudian mulai tersadar kembali saat mendengar suara ponselnya.
    “ne oppa?? Wae??
......
M..mwo???
........
Ne! Aku akan keluar sekarang!” ucapnya yang terdengar seperti bicara sendiri saat kau tidak melihatnya. Kemudian dengan sigap, ia mematikan ponselnya dan mengembalikan ke sakunya.
    “eu. Kwangmin??” panggilnya kepada namja di depannya dan dijawabnya dengan anggukan kecil yang imut dan senyum manis di bibirnya.
    “baiklah.. tolong lepaskan tanganku sekarang~ aku mohon!” pintanya dengan ekspresi wajah yang terlihat tidak seperti meminta, tetapi lebih terlihat seperti memaksa.
    “ke.. kenapa? Kau tidak suka?” tanya Kwangmin polos.
    “yah~!!!” teriak Siyoung  sambil memukul tangan Kwangmin agar melepaskannya. Kwangmin yang kesakitanpun akhirnya melepaskan genggaman tangannya yang tidak terlepas dari tadi.
    Tidak mau melewatkan kesempatan emas ini, Siyoungpun akhirnya segera berlari keluar kelas meninggalkan Kwangmin. Tetapi bukannya menyerah, Kwangmin malah ikut berlari mengejar Siyoung dari belakangnya.
Jimin yang lelah menunggu Siyoung sedari tadi, sekarang ini  bahkan sedang berjalan sambil menunggu Siyoung. Tetapi, saat Siyoung datang, bukannya berlari menghampirinya, tetapi malah melewatinya di lorong tempatnya berjalan.
    “Siyoung-ah!” panggilnya dengan senyum yang lebar. Tetapi tak dihiraukan oleh Siyoung yang sedang terlihat berlari dengan paniknya. Hingga perlahan senyum Jimin itu luntur dari bibirnya.
    “Kwangmin oppa?!!” panggilnya kepada seorang namja yang sedang berlari mengejar Siyoung dengan senyum yang tiba tiba muncul. Namun, kali ini masih tak dihiraukan lagi.
Karena bingung dengan situasi itu, Jiminpun memutuskan untuk ikut berlari mengejar kedua orang itu walaupun tak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.
    Sementara itu, diluar gerbang sekolah itu sudah terdapat seorang namja di atas motor dengan jaket hitamnya. Tanpa banyak bicara, Siyoungpun memakai helm yang diberikan namja itu kemudian dengan cepat naik keatas motor tersebut.
    “kajja oppa!!” perintahnya agar oppanya itu segera memacu motornya kencang.
    Kwangmin yang baru saja sampai di depan gerbang dengan nafas yang terengah engahpun hanya bisa menatap kepergian Siyoung dari belakang yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.
    “oppa~ ada apa? Kenapa mengejar Siyoung?” tanya Jimin yang baru saja sampai di samping Kwangmin dengan gaya genitnya sambil menarik rambut sebelah kanannya ke belakang telinga.
    “gwaenchanayo” jawab Kwangmin datar tanpa mengalihkan pandangannya dari arah kepergian Siyoung tadi.
    “lalu,,, kenapa tadi Siyoung tadi berlari?” tanya Jimin lagi.
    “nan molla, setelah menerima telephone dari seseorang tadi, dia langsung berlari” jelas Kwangmin yang masih tak menatap Jimin.
    “ne oppa~. Kajja pulang bersama!” ajaknya kepada Kwangmin.
    “ah. Aniya. Hyung sudah menungguku” tolak Kwangmin sambil pergi menghampiri hyungnya yang ternyata sudah menunggunya di samping gerbang sekolahnya.
    “aa~h... saeng yang sangat manis! Dia pulang bersama hyungnya!~” ujar Jimin tersenyum lebar dengan kepalan kedua tangannya di pipi kiri.


                            To be continued..
                            Next chapter 2

1 komentar: