“kwangmin-ah, nanti kau pulang dulu ne?! Hyein seongsaenim tadi bilang ingin bertemu hyung sepulang sekolah.” Perintah Youngmin pada adiknya.
“ne hyung!” jawab Kwangmin yang sedari tadi menunduk lalu melihat ke arah Siyoung sesaat dan gelagapan saat tahu bahwa Siyoung juga melihatnya.
******
Rumah kecil tapi manis dengan taman kecil di depannya itu kini telah menjadi milik keluarga kecil tn. Lee.
“appa, aku pulang!” ucap seorang yeoja saat memasuki rumah itu bersama dengan seorang teman di belakangnya. Membuat semua pandangan mata yang ada langsung terarah padanya.
“Siyoung-ah? Aa~ ada Jimin juga rupanya! Ayo duduklah dan ikut makan disini” sambut Hyunseong sambil tersenyum ketika mendapati sang adik sudah pulang dan membawa seorang teman bersamanya.
“A~~~!!! Dia memanggilku Siyoung-ah! Oppa tampan itu memanggil namaku!” teriak Jimin heboh walaupun bukan yang pertama kalinya Hyunseong memanggilnya.
“Jimin-ah, ini sudah yang kesekian kalinya dia memanggilmu! Bisakah kau bersikap wajar?” gerutu Siyoung, tetapi pandangannya sekarang tertuju pada seorang namja imut di samping oppanya.
“oh! Siyoung-ah, dia adalah tetangga kita. Namanya adalah Minwoo” ucap oppanya memperkenalkan namja bernama Minwoo.
Siyoung dan Jiminpun terkaget melihat namja itu. Mata keduanya membulat seketika melihat Minwoo.
“Omo~ bukankah dia adalah pahlawan sekolah kita Siyoung-ah?!” tukas Jimin kemudian melihat ke arah Siyoung yang diikuti dengan tatapan Siyoung yang terarah padanya.
“kau benar” ucapnya datar sambil sedikit menyipitkan matanya.
“Siyoung-ah, Jimin-ah! Sudahlah. Tolong bersikaplah wajar” tukas Hyunseong malu lalu bangkit dari duduknya dan membawa kedua yeoja yang mematung itu untuk duduk dan menyadarkan mereka.
“kalian jangan bicara seperti itu. Aku datang bukan ingin jadi pahlawan, tetapi hanya ingin membantu. Jadi panggil aku cukup dengan namaku, Minwoo. No Minwoo!” ucap Minwoo tersipu dengan pipi yang sedikit memerah.
“Omo~! Dia manis sekali Siyoung-ah!” teriak Jimin dengan wajah memerah dan senyum yang mengembang sambil memukul kecil tangan Siyoung.
“aigoo Jimin-ah! Appo!!” kata Siyoung kesakitan.
“sudah! Sekarang kalian cepat cuci tangan, appa sudah tidak sabar untuk makan masakan Minwoo!” suruh tn. Lee yang membuat keduanya langsung berlari ke belakang untuk mencuci tangannya.
******
“selamat makan!~” ucap kelima orang didepan meja makan itu kompak.
TOK TOK TOK..
Semuanya yang sudah menunggu moment makan inipun langsung menatap sinis ke arah pintu.
“tidak apa apa! Biar aku yang buka pintunya” ujar Siyoung bangun dari duduknya dan membukakan pintu.
“annyeonghaseyo~” ucap seorang namja di depan pintu itu membuat Siyoung tekejut.
“OMO!!!!~ ke kenapa kau bisa ada disini?” teriak Siyoung yang membuat semua orang langsung berhamburan menghampirinya.
“siyoung-ah ada apa?” tanya Minwoo yang disambut dengan jari telunjuk Siyoung yang mengarah pada seorang namja di depan pintu.
Lantas saja, semuanya langsung melihat siapa yang ditunjuk oleh Siyoung.
“Youngmin???” ucap Minwoo dan Jimin yang terkejut secara bersamaan.
Suasana di meja makan menjadi begitu hening saat Youngmin berada disana. Tak seperti saat sebelumnya, semuanya begitu bersemangat dan gembira. Tapi, setelah adanya Youngmin, suasananya berubah menjadi canggung dan terkesan suram. Tidak ada satu orangpun yang berani angkat bicara, hingga suara Siyoung mulai memecah keheningan tersebut.
“ada urusan apa kau kesini?” tanyanya pada Youngmin dengan nada tidak suka.
“aku hanya ingin lihat rumah barumu. Itu saja. Ada yang salah?” jawab Youngmin cuek berbalik tanya.
“memangnya kau ini siapa??! HAH?! Orang yang dengan beraninya mengusir keluargaku untuk apa kesini?!” marah Siyoung memukul meja dengan badan yang ikut terangkat sedikit karena amarahnya.
“aku hanya ingin memperingatkan saja! Apa yang salah??!!!” jawab Youngmin emosi dengan nada meninggi.
“diam semuanya!” teriak tn. Lee menengahi, karena sudah tidak tahan lagi mendengar amarah anaknya dan keributan di tengah keluarganya yang baru saja akan memulai hidup barunya itu setelah pindah rumah.
“Youngmin-ssi, apa alasanmu mengusir keluarga kami?” lanjut tn. Lee penuh dengan kesabaran dan begitu tenang.
“........aku tidak bisa mengatakannya” jawab Youngmin lirih.
“kau tidak bisa menyuruh orang pergi seenaknya tanpa ada alasan yang jelas. Apa lagi menyuruh orang yang bukan merupakan apa apamu~” tukas tn. Lee berusaha menghentikan hal buruk yang sedang terjadi di rumahnya.
“jwosonghamnida” sesal Youngmin sambil sedikit menunduk.
“hh! Kenapa suasana jadi tegang begini?! Haha sudahlah, ayo makan bersama! Youngmin, kau juga ikut makan ne?!” tukas Hyunseong berusaha mencairkan suasana.
“oppa~” rengek Siyoung kepada oppanya.
“Siyoung-ah dia juga tamu kita. Suasananya juga jadi lebih meriah. Kau manis sekali!” tanggap Hyunseong lantas mencubit pipi Siyoung gemas.
“oppa~” teriak Siyoung dengan ekspresi lucu yang membuat semua orang disana tertawa kecuali Youngmin yang masih saja cuek.
“iya! Siyoung sangat manis!” ucap Minwoo dan membuat semua orang terdiam melihatnya.
“cih!” cuek Youngmin saat melihat Minwoo mengatakan hal itu.
“Ayolah~ aku sudah lapar!” tukas Hyunseong dengan ekspresi laparnya.
“oppa. Mau kusuapi????” tawar Jimin yang dengan cepat mengambil daging dihadapannya dengan sumpit dan menyodorkannya ke depan mulut Hyunseong.
“eh, aku bisa sendiri” ucap Hyunseong malu malu kemudian menngambil daging itu dan membuat Jimin mempoutkan bibirnya.
******
“aaaa~ enak...” ujar semuanya kompak saat menyelesaikan makanannya, kecuali Youngmin yang sih saja cuek dengan suasana yang ada di rumah itu.
“sudah selesai kan?! Kalau begitu aku akan pulang” tukas Youngmin yang benar benar tidak sopan lantas berdiri ingin meninggalkan ruangan itu.
“jadi di sini kau hanya numpang makan?!” teriak Siyoung yang terdengar seperti mencegah kepergian Youngmin, padahal dia juga tidak menyukai saat Youngmin berada disana.
“khamsahanida~” ujar Youngmin sambil membungkuk.
“kau tidak ingin lebih lama?” tanya Minwoo berbasa basi.
“ani. Khamsahamnida! Oh ya, siyoung-ah. Aku harap kau dan keluargamu lebih berhati hati” tambahnya kemudian melenggang pergi tanpa melihat ke belakang.
“ada apa dengannya?” tanya Jimin pada Siyoung sambil berbisik.
“mollayo~” jawab Siyoung dengan tatapana sinis yang ia arahkan pada arah perginya Youngmin.”
@Rumah keluarga Jo
Rumah besar nan luas dengan gaya dan arsitektur klasik dan taman yang benar benar cantik dengan bunga bunga yang tumbuh subur dan terawat tak lupa juga sebuah air mancur berukuran sedang yang memperindah taman tersebut.
Tetapi, rumah besar itu tidak sesuai dengan orang yang menempatinya. Benar, rumah tersebut hanya ditinggali oleh si kembar Jo dan eommanya. Tetapi tentu saja tidak benar benar ber3. Disana juga ada 3 pembantu rumah tangga, 2 supir dan 2 keamanan yang kualitasnya sangat terjamin.
“eomma. Eomma yakin akan melakukannya?” ucap seorang namja blonde yang terlihat cantik saat memasuki rumahnya dengan terburu buru itu kepada eommanya yang sedang asik duduk santai sambil membaca koran.
“...”
“setidaknya eomma tidak menggunakan Kwangmin!” tukas namja bernama Youngmin itu dengan berteriak pada eommanya.
Walaupun awalnya tidak menjawab, tetapi akibat teriakannya. Akhirnya eommanya mulai menurunkan koran itu dari pandangannya dan melihat Youngmin.
“itu karna kau tidak mau melakukannya. Jadi jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri!” jawab eommanya dingin.
“kenapa eomma ingin menghancurkan mereka??” teriak Youngmin berapi api.
“mereka keluarga kecil yang manis, sama seperti kita..
Dulu...” lanjutnya dengan nada yang semakin melemah.
“heuh.!” Tukas eommanya acuh dan terkesan tidak menyukai dengan apa yang barusaja dikatakan oleh anaknya.
Youngmin yang marahpun berlari meninggalakan eommanya menuju lantai atas tempat kamarnya dan Kwangmin berada. Awalnya ia ingin pergi ke kamarnya sendiri, tetapi niatnya itu ia urungkan ketika melihat pintu kamar Kwangmin yang terletak tepat di samping kamarnya itu sedikit terbuka.
Dengan perlahan ia mulai membuka pintu itu dan memasuki ruangan tersebut. Setelah berhasil memasuki kamar Kwangmin itu, pandangan Youngmin terpaku kepada sesosok namja yang memiliki wajah yang sama dengannya sedang berdiri di balkon sambil menikmati pemandangan yang indah dan angin yang segar.
Iapun menghampiri Kwangmin dan tanpa sadar air matanya jatuh menetes saat ia mendekat ke arah Kwangmin. Semakin lama berjalan ia pun berlari dan akhirnya memeluknya dari belakang sehingga membuat Kwangmin terkejut.
“hyung??? @o@” panggilnya dengan nada terkejut.
“Kwangmin-ah~” ucap Youngmin yang balik memanggil sambil mengeratkan pelukannya dengan suara parau.
“ada apa hyung???”
“kasihan sekali kau. Gara gara eomma kau harus...”
“tak apa hyung..” potong Kwangmin.
“aku akan melakukannya. Walapun aku,, tidak mau...” ucap Kwangmin dengan senyum kecutnya.
“karena itu adalah.... perintah eomma” lanjutnya dengan senyum yang memudar, dan dengan perlahan ia mulai menunduk.
******
Pagi ini Siyoung berangkat ke sekolah tidak seperti biasanya. Yaitu diantar oppanya dan membuat keributan di depan sekolah. Kali ini ia mencoba untuk mandiri dengan bersepeda ke sekolah, karena jarak rumah barunya yang sangat dekat dengan sekolah yang bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Dengan cuaca dan suasana yang mendukung seperti ini dapat menambah semangatnya untuk mengayuh sepeda. Melewati beberapa persimpangan dengan gembira hingga ia tiba tiba disejajari oleh seorang namja yang juga bersepeda di sampingnya.
“annyeong Siyoung-ah! Pagi ini cerah ya?!” sapa namja itu dengan senyum manis melihat Siyoung.
“Minwoo? kau ada di sini?” tanya Siyoung kebingungan.
“kau lupa ya? Aku kan tinggal tepat di samping rumahmu. Sebenarnya tadi aku sudah ke rumahmu, tapi ternyata kau sudah berangkat. Jadi aku berusaha mengejarmu. Dan, di sinilah aku! Di sampingmu!” jelas Minwoo panjang lebar.
“ah~ iya.. oh iya, Minwoo-ya terimakasih makanan kemarin. Itu sangat enak!” sahutnya kemudian berterimakasih.
“benarkah? Waah aku benar benar senang kalu begitu!” tanggap Minwoo atas pujian dari Siyoung.
Saking asiknya berbincang, mereka berdua tidak sadar kalau mereka telah tiba di dekat sekolah sekarang. Dan Siyoung juga tidak menyadari adanya seorang namja yang sedang menantinya di depan sekolah.
“Siyoung-ah!” teriak namja bernama Kwangmin itu memanggil Siyoung dari kejauhan.
“yah! Hentikan! Kembalikan topiku!” teriak seorang namja kepada temannya dari sudut yang berbeda.
“ani jarang jarang aku bisa mengerjaimu seperti ini. Hahahaha.... tangkap ini!” goda teman si namja tadi sambil melempar topi itu yang kemudian masuk ke dalam keranjang sepeda Siyoung.
“yah! Bisa berikan topi itu padaku?” tanya namja pemilik topi itu dengan berteriak, yang membuat Siyoung langsung melihatnya.
“Jeongmin oppa~!” ujar Siyoung dengan senyum manis yang mengembang lebar dari bibir Siyoung yang memperhatikan namja itu tanpa melihat apa yang ada di depannya.
“awas!!” teriak Kwangmin dan Minwoo kompak pada Siyoung.
GLUBRRUUUK.....
Spontan saja Kwangmin, Minwoo dan Jeongmin langsung menghampiri Siyoung yang sudah terjatuh.
“kau tidak apa apa?” ucap mereka bertiga kompak.
“aigoo. Pusing.. sakit..” ungkap Siyoung sambil berusaha untuk duduk. Saat ia membuka matanya ia sangat terkejut melihat Jeongmin dihadapannya. Betapa tidak, namja yang ia sukai yang bahkan belum mengenalnya kini tiba tiba berada dalam jarak kurang dari satu meter darinya dan ada di sampingnya saat ia jatuh.
“oppa-ya~” ucapnya dengan senyum yang benar benar mengembang lebar dengan wajah merah kemudian tiba tiba pingsan.
To be continued..
Next chapter 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar